Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Monday, May 2, 2011

Tumbilotohe: Menyalakan Lampu Jelang Hari Kemenangan




Oleh Amril Taufik Gobel


Kenangan masa remaja itu masih melekat di hati hingga kini.
Ketika baru tamat SMA 25 tahun silam, saya mengunjungi tanah kelahiran kedua orang tua saya di Provinsi Gorontalo. Di sana, saya menyaksikan sebuah tradisi khas masyarakat Gorontalo dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Namanya Tumbilotohe — “tumbilo” artinya menyalakan, “tohe” artinya lampu. Jadi Tumbilotohe, yang berlangsung sejak abad ke-15 ini, adalah tradisi menyalakan lampu sepanjang malam, yang berlangsung pada tiga malam terakhir Ramadan.

Pada awalnya, lampu yang dipakai untuk Tumbilotohe terbuat dari getah pohon damar, yang dapat menyala dalam waktu lama. Damar menyala itu dibungkus janur dan dipasang di atas dudukan kayu. Namun seiring sulitnya memperoleh damar, bahan lampu pun berganti ke minyak kelapa (padamala).
Mengikuti perkembangan zaman, pada 1990-an, minyak tanah menggantikan posisi minyak kelapa.

Beberapa rumah juga sudah memakai lampu listrik berwarna-warni, namun ada juga yang tetap bertahan dengan lampu minyak tanah — seperti kakek dan nenek saya yang meletakkan lampu minyak tanah itu di kerangka dudukan kayu di atas pagar.

Saya masih ingat betul, betapa indahnya cahaya lampu yang bersinar benderang di sepanjang jalan. Tak hanya itu, cahaya lampu juga menerangi halaman masjid, perkantoran, bahkan sawah serta lapangan sepak bola. Saya sendiri memasang lampu Tumbilotohe di sawah kakek-nenek saya di belakang rumah.

Pada malam-malam itu di Gorontalo juga banyak kegiatan dilangsungkan. Misalnya, perlombaan bernuansa keagamaan antarkampung. Atau permainan Bunggo’ (meriam bambu). Dentuman meriam dari ruas bambu yang ujungnya dilubangi sangatlah meriah di malam Tumbilotohe.

Salah satu yang cukup unik juga, adalah  hadirnya Alikusu atau gerbang yang terbuat dari bambu kuning — bersama hiasan janur, pohon pisang, tebu dan lampu minyak. Dipasang di pintu kantor, rumah, masjid atau perbatasan daerah, Alikusu menambah semarak Tumbilotohe — yang jadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Gorontalo.

Saya mengenang, pesona kerlap-kerlip lampu pada malam-malam itu membuat saya bagai berada di samudera cahaya di Gorontalo. Begitu memukau. Bila disaksikan dari atas, tentu Gorontalo kemilau sekali.

Sampai kini, tradisi ini tetap dipelihara sebagai kegiatan unik khas daerah (penyelenggaraan Tumbilotohe biasanya dibuka oleh Gubernur Gorontalo). Namun demikian, seiring melambungnya harga minyak tanah dan biaya listrik, Tumbilotohe tak lagi bersemarak seperti yang saya rasakan 25 tahun silam.
Semoga Tumbilotohe bisa tetap lestari dan menjadi khazanah kekayaan budaya bangsa.

Foto: Antara/Wahyu Putro

Sumber: www.yahoo.com

Atraksi Bambu Bernuansa Mistis




Oleh Amril Taufik Gobel


Atraksi Bambu Gila (disebut juga Buluh Gila atau Bara Suwen) sekilas tampak sederhana. Ada sebilah bambu dengan panjang 2,5 m dan diameter 8 cm yang mendadak jadi lawan tangguh bagi tujuh lelaki dewasa. Namun kesan kesederhanaan itu hilang ketika mengetahui batang bambu itu seketika jadi liar, berat, dan sukar dikendalikan setelah dirapalkan mantra oleh seorang pawang.

Pertama-tama sang pawang akan membakar kemenyan di atas tempurung kelapa. Dia kemudian mengembuskan asap kemenyan melalui buluh bambu yang dipercaya akan memanggil para arwah leluhur. Kehadiran para arwah itulah yang memberi kekuatan mistis bagi batang bambu yang digunakan dalam permainan.

Tak heran jika bambu yang dipakai dalam permainan ini bukan bambu sembarangan. Sang pawang harus meminta “restu” dari “penunggu” hutan sebelum menggunakannya. Dalam sebuah ritual adat, bilah bambu dipotong, dibersihkan, dicuci dengan minyak kelapa, lalu dihiasi dengan kain setiap ujungnya.
Pada pertunjukan berskala kecil, biasanya sang pawang akan mengunyah jahe yang terpotong tujuh, kemudian menyemburkannya ke batang bambu.

Kemudian sang pawang akan merapalkan mantra dalam bahasa Tana’, salah satu bahasa tradisional setempat. Berulang-ulang mantra diucapkan, aura mistis kian terasa dan memuncak ketika sang pawang berseru kencang: Gila! Gila! Gila!

Atraksi pun dimulai. Musik mengalun kencang dan tujuh pria dewasa ikut terayun-ayun, terguncang-guncang, meliuk-liuk oleh bambu yang mereka peluk erat.

Sekuat tenaga ketujuh lelaki itu mengerahkan segala kemampuan mereka. Namun bambu itu justru kian berat dan liar — apalagi saat irama musik dipercepat serta tifa (alat musik khas Maluku) ditabuh. Atraksi ini berakhir bilamana para pemain jatuh pingsan di arena permainan.

Saat ini Bambu Gila sudah jarang ditemui dan lebih banyak dipentaskan di desa-desa kecil di Maluku, misalnya Desa Liang, Kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Namun demikian, atraksi ini dimodifikasi menjadi sebuah tarian lincah dengan buluh (bambu) yang didekap kedua tangan sementara kaki bergerak lincah.

Gerakan itu berlangsung dalam harmoni seakan menggambarkan persatuan dan kesatuan serta semangat gotong royong “Masohi” — sebuah spirit luhur masyarakat Maluku sejak lama.

Foto: Tempo/Panca Syurkani


Sumber: www.yahoo.com

Kuda Lumping




Oleh Amril Taufik Gobel


Kesenian tradisional kuda lumping merupakan atraksi khas Jawa yang memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. Saat melewatkan masa kecil di Bone-bone 30 tahun silam saya kerap kali menyaksikan kuda lumping dipertontonkan di tempat yang juga merupakan daerah transmigrasi ini. Saya masih ingat betul, bila hari-hari besar nasional tiba, maka beragam atraksi tradisional dipertontonkan untuk memeriahkannya — salah satunya adalah kuda lumping.

Kuda lumping (dikenal juga dengan nama jaran kepang atau jathilan) adalah tarian dengan memakai anyaman bambu yang "dirakit" sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk kuda. Adegan yang ditampilkan biasanya berbentuk prajurit berkuda, yang dalam beberapa penampilan biasanya menyuguhkan atraksi kesurupan yang mistis. Kadang-kadang ada pagelaran aksi kekebalan tubuh, seperti memakan beling, mengupas sabut kelapa dengan gigi, hingga menerima sabetan pecut di badan.

Tak jelas betul dari mana asal usul kesenian tradisional ini. Namun sebuah riwayat menyatakan, kuda lumping merupakan representasi imajinasi latihan perang pasukan berkuda Mataram pimpinan Sultan Hamengkubuwono I dalam menghadapi pasukan Belanda.

Ada pula yang menyatakan ini adalah bentuk dukungan rakyat jelata terhadap pasukan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah. Terlepas dari kebenaran sejarah hadirnya kesenian tradisional ini, seiring perkembangan zaman, atraksi kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan patriotisme pasukan kavaleri menumpas lawan dengan gigih serta tangguh.

Saya mengenang betapa atraksi ini benar-benar membuat saya terpukau. Sebelum atraksi dimulai "pemimpin supranatural" atraksi kuda lumping melakukan ritual magis di tengah lapangan pertunjukan. Ketika sang penari kuda lumping kesurupan, ia berkeliling dan berjingkrak-jingkrak dengan suara gemerincing di kakinya sembari melakukan gerakan-gerakan seperti bergulingan di tanah.

Suara perangkat gamelan (terdiri dari kendang, kenong, gong dan slompret)  yang berpadu bersama suara pecut semakin memeriahkan suasana dan itu membuat sang penunggang kuda lumping kian bersemangat. Ada riwayat yang menyatakan, suara pecut atau sabetan justru akan memberikan sugesti pada sang penari kuda lumping untuk semakin bersemangat dan liar menyajikan atraksinya.

Saya sempat tersentak kaget dan agak ngeri ketika penari kuda lumping dengan santai mengunyah bola lampu pijar layaknya seperti sedang memakan gorengan. Atau ketika ia mengupas sabut kelapa dengan giginya tanpa khawatir giginya akan rontok semua. Di akhir acara biasanya disajikan atraksi semburan api yang keluar dari mulut sang penari sampai kemudian sang "pemimpin supranural" melakukan pemulihan kesadaran kembali pada sang penari.

Kesenian ini memang tak bisa dimainkan oleh sembarang orang. Namun aksi monumental yang ada di atraksi ini dikenal cukup memberi kesan mendalam bagi penontonnya.

Sumber: www.yahoo.com

Tanaberu, Negeri Perajin Perahu





Oleh Andari Karina Anom

Anda yang mencintai laut tentu senang mengarunginya dengan perahu. Di Sulawesi Selatan, sekitar 150 km (lima jam perjalanan darat) ke selatan kota Makassar, terdapat sebuah desa pantai yang penduduknya terkenal piawai membuat perahu. Namanya Tanaberu.

Desa yang terletak di Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba ini dijuluki “Butta Panrita Lopi” atau Negeri Perajin Perahu. Yang dibuat di sini adalah pinisi, perahu tradisional Bugis Makassar yang terkenal telah melayari samudera sejak dulu kala.

Penduduk Tanaberu turun-temurun mewarisi keahlian membuat pinisi dari nenek moyang mereka. Alkisah, di awal abad ke-14, Putra Mahkota Kerajaan Luwu yang legendaris, Sawerigading, berlayar ke negeri Tiongkok untuk meminang Putri We Cudai. Dalam pelayaran pulang, kapalnya diamuk badai lalu karam setelah terbelah tiga di perairan Bulukumba.

Pecahan-pecahan kapal yang terdampar di desa Ara, Tanaberu dan Lemo-lemo kemudian dirakit kembali oleh warga tiga desa itu menjadi perahu yang disebut pinisi. Warga desa percaya, itulah tuntunan Sawerigading kepada mereka untuk menjadi perajin perahu.

Sejak itu, masyarakat tiga desa ini (terutama Tanaberu dan Ara) kemudian menekuni pembuatan perahu pinisi. Tata cara pembuatan pinisi menjadi baku dan berdisiplin tinggi. Semua tahapan memiliki ritual tersendiri serta dikerjakan secara tradisional. Para perajin perahu bekerja berdasarkan naluri belaka tanpa gambar rancangan kapal.

Pembuatan pinisi selalu diawali dengan ritual upacara yang dipimpin Pandita Lopi, tokoh adat yang juga perajin perahu. Upacara itu meliputi peletakan balok lunas yang mengarah ke timur laut, lalu balok lunas yang mengarah ke barat laut. Perahu dibuat dari kayu jenis Bitti, Katonde dan Welengreng yang kuat dan tahan air. Uniknya, penebangan pohon sebagai bahan perahu hanya dapat dilakukan pada tanggal 5 dan 7 setiap bulannya — dua tanggal baik yang dianggap sebagai hari-hari murah rezeki bagi penduduk Bonto Bahari.

Pembuatan perahu pinisi dipimpin oleh punggawa (kepala tukang) dengan bantuan oleh sawi (tukang) dan para calon sawi. Ada pula upacara pemasangan papan pengapit lunas yang disebut Kalebiseang yang berjumlah 126 lembar. Setelah itu dilanjutkan dengan Anjerreki, upacara memperkuat lunas, dilanjutkan dengan pemasangan bagian buritan dan kemudi bawah.




Setelah papan perahu kuat, sekujur tubuh pinisi kemudian didempul dengan bahan campuran kapur dan minyak kelapa. Satu perahu bisa menghabiskan 20 kilogram adonan dempul. Badan perahu yang telah didempul itu kemudian dihaluskan dengan kulit pepaya.

Setelah badan dan kerangka perahu tuntas, barulah dipasang tiang dan layar. Pinisi memiliki dua tiang utama dengan tujuh helai layar. Pada umumnya perahu ini berukuran kecil dengan daya angkut 20-30 ton dengan panjang 10-15 m.

Kendati dibangun dengan teknik yang sangat tradisional, pinisi terkenal presisi dan indah. Para perajin pinisi di Tanaberu dikenal sampai ke mancanegara. Sebagian besar pemesan berasal dari luar negeri, terutama Eropa, Amerika dan Kanada, Afrika, Malaysia dan Singapura.

Muslim, salah seorang juragan pembuatan perahu, mengatakan, biasanya mereka mendapat pesanan dengan aneka penambahan terutama interior dan teknologi — seperti pesanan seorang warga Perancis yang ingin memajang pinisi di museum bahari di Paris. Sementara itu, Haji Jafar, perajin pinisi, membuat perahu wisata berbobot 100 ton berdasarkan pesanan dari Belanda dan Singapura.
Perahu pinisi menjadi buah bibir dunia berkat ekspedisi Pinisi Nusantara yang melakukan pelayaran bersejarah dari dermaga Muara Baru, Jakarta, menyeberangi Samudera Pasifik menuju Vancouver, Kanada.

Bertolak pada 9 Juli 1986 dan dipimpin Capt. Gita Ardjakusuma, Pinisi Nusantara berhasil mengatasi rintangan berupa ombak besar dan badai di perjalanan. Setelah berlayar 68 hari, pinisi dengan panjang 37 m dan bobot 120 ton ini pun berhasil berlabuh di Vancouver — menempuh jarak lebih dari 10,000 mil laut.

Setelah pelayaran Pinisi Nusantara, terdapat pula beberapa ekspedisi pelayaran melintasi samudera dengan rute berbeda oleh pinisi-pinisi buatan perajin perahu Tanaberu.

Foto pertama: Tempo/Wahyu Setiawan
Foto kedua: Tempo/Hariandi Hafid

Sumber: www.yahoo.com

Saturday, April 23, 2011

Indonesia: Islamic Militants 'Planned to Film Cathedral Bomb'THE DAILY TELEGRAPH: Islamic militants involved in a plot to bomb an Indonesian cathedral ahead of Easter celebrations planned to film and broadcast the inferno.Indonesian police said 19 suspects, who had planted bombs beneath a gas pipeline at the Christ Cathedral near Jakarta, were part of a new terrorist cell inspired by al-Qaeda. »